KEMBALI, TENTANG DAMPAK SEKOLAH NEGERI MINIM SISWA
Dalam berita koran Banjarmasin Post, Kamis, 1 November 2018, pada halaman 11, dengan judul berita “ Sekolah Minim Murid Terancam Dilebur “ dengan subjudul “ Dinas Pendidikan Banjar Inventarisasi Sekolah Pinggiran “. Menurut koran ini, pemetaan dan inventarisasi sejumlah sekolah saat ini mulai dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, terutama yang berada diwilayah pinggiran. Sekolah yang jumlah muridnya minim terancama dilebur atau regroping. Selanjutnya, “ Kalau posisi saat ini memang belum ada rencana regroping. Namun inventarisasi tentu terus berlangsung untuk mendata jumlah dan dimana saja sekolah yang muridnya sedikit” tegas Kepala Dinas Pendidikan Banjar HG Ruspani Noor, Rabu (31/10).
Kondisi kekurangan siswa pada sekolah negeri di Kalimantan Selatan , memang sudah mulai dirasakan pada saat awal tahun pelajaran baru 2018/2019. Ketika itu masalah kekurangan siswa dirasakan oleh sekolah jenjang SMP negeri di Kota Banjarmasin. Menurut berita koran Banjarmasin Post, Kamis, tanggal 19 Juli 2018, pada halaman 9, dengan judul yang bertulisan besar “ Guru Sekolah Swasta Bakal Dikurangi” , dengan beberapa subjudul yang terkait, yaitu “ Pendapatan Pun Jadi Berkurang “, “ Tak Boleh Tambah Rombel”, dan “ Berbagi Baju dan Sembako”. Menurut koran ini, dampak berkurangnya siswa dalam Peneriamaan Peserta Didik Baru (PPDB) tak hanya dialami sekolah negeri. Sekolah swasta pun mengalami nasib serupa.
Selanjutnya, Banjarmasin Post, pada Rabu, 12 September 2018, pada halaman 11, dengan judul berita “ Disdik Bingung Murid Terus Berkurang” ,dan subjudul “ 61 Sekolah Bakal Dievaluasi”. Koran ini mengangkat permasalahan sekolah yang kekurangan siswa di Kabupaten Barito Kuala atau Batola, yang dalam paparan beritanya menyebutkan ada sebanyak 61 sekolah menjadi sorotan dinas pendidikan Batola. Perhatian serius diberikan kepada sekolah tersebut dikerenakan dari tahun ke tahun selalu kekurangan murid.
Ternyata, fenomena sekolah negeri kekurangan siswa menjadi masalah yang banyak dialami oleh sekolah di beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Fenomena tersebut menjadi sebuah indikasi yang kuat semakin banyak sekolah negeri yang kekurangan siswa. Hal tersebut juga pada gilirannya akan berdampak pula pada pengurangan jumlah guru, lalu peleburan atau regruping sekolah, sebagaimana diberitakan oleh koran Banjarmasin Post di atas.
Ketika jumlah siswa mulai berkurang, lalu ada fenomena apa dibalik makin meluas dan banyaknya daerah yang kekuarangan siswa, khususnya kalangan sekolah negeri? Menurut analisa penulis, berkurangnya jumlah siswa pada sekolah negeri bukan disebabkan oleh jumlah siswa yang berkurang setiap tahunnya, tetapi makin banyaknya sekolah swasta yang berdiri, khususnya sekolah atau madrasah yang bernuansa keagamaan. Makin banyak sekolah atau madrasah swasta yang berdiri dengan mengadopsi kurikulum umum dan agama, sehingga menjadi pilihan baru untuk melanjutkan sekolah.
Sekolah atau madrasah yang menerapkan atau memadukan kurikulum umum dan agama (Islam) mulai bermunculan, dengan label agama (Islam) yang menarik perhatian banyak orangtua. Mutu sekolah atau madrasah bernuansa keagamaan tersebut memang ada yang sudah dapat menyamai sekolah negeri, bahkan ada yang melebihinya. Meski sekolah atau madrasah swasta memungut biaya pendidikan yang relatif besar, namun bagi masyarakat yang mampu dan ingin memberikan pendidikan keagamaan yang kuat serta juga memiliki pendidikan umum, maka masalah biaya tidak terlalu dipermalasahkan.
Kehadiran sekolah atau madrasah swasta yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan, khususnya di daerah perkotaan, merupakan salah faktor yang mungkin mengurangi jumlah siswa yang masuk ke sekolah negeri. Tentu, kondisi dan fenomena tersebut harus disikapi dengan arif oleh pengelola sekolah negeri, terutama dalam masalah kurikulum dan mutu pendidikannya. Persaingan antar sekolah, baik negeri maupun swasta, memang tidak dapat dihindari, karena dunia pendidikan memang memerlukan adanya persaingan yang sehat. Bersaing untuk kemajuan pendidikan Indonesia.






